Foto @zee_nurfauziah |
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yogyakarta dimasa Purba ? Seperti apakah bentuk wajah Gunung Kidul saat itu ? Untuk mengulasnya secara sederhana dan mudah dipahami kita harus memutar mesin waktu ke masa silam dan melihat sejarah terbentuknya pulau Jawa.
Pre-Tersier 100-70 Juta Tahun Lalu
Pada zaman geologi sebelum zaman tersier atau lebih dari 70 juta tahun yang lalu, sebuah daratan di sisi Paparan Sunda (Sundaland Core) yang kelak menjadi pulau Jawa bagian Barat diprediksi telah bertabrakan dengan pecahan kecil benua Australia (East Java Microcontinent) yang kemudian menjadi Jawa bagian Timur. Masing-masing kedua bagian ini kemudian bergabung sehingga membentuk pulau Jawa namun belumlah seperti sekarang ini.
Pulau Jawa yang terbentuk dari gabungan dua sempalan lempeng benua itu diyakini memiliki umur yang lebih tua di bagian baratnya jika dibanding bagian timur. Batas di antara kedua bagian ini tertandai dengan adanya sesar purba yang membentang dibawah Sungai Luk Ulo di Kebumen, Jawa Tengah, menuju Muria, menyeberangi Laut Jawa dan berakhir di Pegunungan Meratus yang membelah Kalimantan Selatan.
66 Juta Tahun yang Lalu
Pada masa berikutnya, ketika Pulau Jawa sudah mulai terbentuk dengan poros membujur arah barat dan timur, muncul tekanan luar biasa kuat dari arah Selatan. Lempeng samudera Indo-Australia bergerak perlahan ke arah Utara, menabrak dan mendesak lempeng benua Eurasia, fase tektonik awal pun terjadi.
Lempeng Samudera yang memiliki densitas atau massa jenis yang lebih tinggi kemudian menyusup masuk menghasilkan subduksi dibawah Sunda Microplate sepanjang suture Karangsambung-Meratus. Peristiwa ini kemudian melahirkan palung laut, sistem sesar darat dan memicu gempa bumi hingga kini.
Sebagian material lempeng samudera Indo-Australia mengalami pergesekan, pelelehan, mencair menjadi magma melahirkan pegunungan serta aktifitas jalur vulkanik (volcanic arc) bentukan gunung berapi di sepanjang sisi Selatan pulau Jawa.
Keberadaan gunung api zaman purba ini sudah tak bisa kita nikmati layaknya gunung Merapi atau Slamet namun jejak kedahsyatan letusannya terserak di beberapa tempat dan akan kita ulas sebagian.
50-40 Juta Tahun Silam
Yogyakarta dan di sebagian Pulau Jawa saat itu adalah kawasan laut dengan kehidupan biotanya yang berkembang dengan baik. Daerah pegunungan selatan juga masih menjadi daerah laut dengan airnya yang tenang, jernih, mempunyai sumber makanan yang ideal, dan memperoleh cahaya matahari yang cukup. Kondisi Yogyakarta saat itu diperkirakan mirip dengan The Great Barrier Reef di lautan Australia di masa sekarang ini.
Foto : greatbarrierreef |
Contonya di sisi Timur Perbukitan Jiwo di Desa Watu Prahu, Bayat, Kabupaten Klaten. Disini terdapat batu gamping yang tersusun dari kumpulan fosil binatang laut jenis foraminifera berbentuk koin, yang menjadi penunjuk sejarah geologi 40 juta tahun yang lalu.
Sisa-sisa kekayaan alam laut purba Yogyakarta bahkan terukir jelas di gunung Gamping yang hanya berjarak 4 km dari Malioboro Jogja. Terletak membujur dengan ketinggian lebih dari 50 meter dari permukaan tanah, membentang dari timur ke barat dari Kampung Delingsari Gamping Kidul hingga Padukuhan Tlogo Ambarketawang. Gunung Gamping tersebut menurut hasil penelitian Direktorat Geologi Bandung diperkirakan berumur sekitar 38 - 54 Juta tahun.
Sketsa Gunung Gamping dalam Java Album |
36 hingga 20 Juta Tahun Lalu
Wilayah Yogyakarta yang saat itu berupa hamparan laut bukanlah laut sembarangan. Karena didasarnya didapati adanya aktifitas super vulkanis dimasa purba. Gunung api bermunculan dari dalam laut zona selatan akibat konsekuensi penujaman lempeng samudera Indo-Australia yang mengalami pergesekan dan pelelehan kemudian magma naik kepermukaan bumi membentuk pulau-pulau gunung api.
Pada gugusan gunung api purba di Pulau Jawa ini, diperkirakan telah terjadi rangkaian peristiwa vulkanisme diantaranya adalah letusan sangat dahsyat.
Lava Bantal Berbah
Keberadaan lava bantal (pillow lava) ini berada di kali Opak sebelah barat Dusun Watuadeg Desa Tegaltirto Kecamatan Berbah Sleman atau Dusun Sumber Kidul, Desa Kalitirto. Sekitar 150m di sebelah barat Opak terdapat sebuah bukit kecil setinggi 15 m, yang mempunyai komposisi sama dengan aliran lava bantal.
Berdasarkan data diperkirakan bahwa bukit kecil itu merupakan sumber aktifitas magmatik dalam air (laut) berupa erupsi aliran lava dari Gunung api purba Watuadeg. Lava bantal itu ditindih oleh batuan yang merupakan bagian Formasi Semilir.
Lava Bantal Berbah adalah salah satu kawasan warisan geologi (geoheritage) yang diperkirakan sebagai gejala erupsi lelehan berumur 56/30-3,8 juta tahun dan ditengarai sebagai representasi masa-masa awal pembentukan gunung api di Pulau Jawa.
Karena berada di dasar laut, terobosan magma tersebut tidak tidak sempat melebar dan membentuk gunung api. Melainkan langsung mendingin oleh air laut menjadi batu khas seperti bantal atau bongkahan-bongkahan batu hitam keras yang berbentuk bulat.
Kemudian belakangan Lava Bantal Berbah dengan volkanisme ‘monogenesis’ (hanya menghasilkan satu lelehan lava) di bawah laut menjadi penopang gunung berapi dasar laut lainnya yaitu cikal bakal himpunan gunung api volkanisme ‘poligenesis’ yang menghasilkan gunung api strato (kerucut) Pulau Jawa. Fase gunung berapi purba berbentuk strato dengan erupsi yang super eksplosif pun dimulai, inilah masa-masa di mana gunung api purba alami kejayaannya di Pulau Jawa.
Peristiwa letusan gunung api terekam lewat endapan yang disebut formasi, dari Peta Geologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diketahui penamaan Formasi Gunung api tersebut, yaitu : Formasi Kepek, Wonosari - Punung, Sentolo, Oyo, Wuni, Sambipitu, Semilir, Nglanggran, Kebo-Butak dan Formasi Mandalika. Diantara banyak formasi tersebut 3 diantaranya akan Jogja Uncover ulas.
Bersambung.... ke sesi 2
Letusan Gunung Api Purba Nglanggeran, Wediombo dan Formasi Semilir