Benarkah Fullmoon dan Newmoon Memicu Gempa Besar ?! Inilah Fakta Sesungguhnya

thumbnail
Benarkah Full Moon atau bulan Purnama sering terkait ( menjadi pemicu ) gempa skala besar ?! Apakah New Moon atau bulan mati juga sama ?! Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh sejarah gempa itu sendiri. Dan @Jogja_Uncover akan mengungkap fakta sejarah gempa besar di Indonesia sekaligus mengkorelasikannya dengan fenomena fase bulan untuk membuktikannya.

Sumber data Gempa diambil dari BMKG dan USGS, dengan rentang tahun 2000 hingga 2014. Untuk sumber data fase bulan dari aplikasi Lunar Phase dan Deluxe Moon app.
Gempa bumi fullmoon

Berikut data gempa besar periode tahun 2000 - 2014 di Indonesia dan sekaligus fase bulan yg berlangsung di dekat peristiwanya.
 
Gempa Besar dan fase bulan Tahun 2000 - 2005 

4 Mei 2000, 6.5 SR Kep Banggai
New Moon
4 Juni 2000, 7.3 SR Bengkulu
H+2 New Moon
26 Mei 2003, 7 SR Halmahera
H+3 Last Quarter
28 Januari 2004, 6.7 SR Kepulauan Seram
H-1 First Quarter
6 Februari 2004, 6.9 SR & 7.1 SR Nabire Papua
Full Moon
12 November 2004, 6.5 SR Kepulauan Alor
New Moon
26 November 2004, 6.4 SR Nabire, Papua
H-1 Full Moon
26 Desember 2004, 9.4 SR Aceh
FullMoon
2 Maret 2005, 7.5 SR Laut Banda
H-2 Last Quarter
19 November 2005, 6.5 SR Simeulue
H+3 Full Moon
5 Juli 2005, 6.7 SR Nias
H-1 New Moon
19 Mei 2005, 6.9 SR Nias
H+3 First Quarter
10 April 2005, 6.7 SR Kepulauan Mentawai
H+1 New Moon
28 maret 2005, 8,7 SR Sibolga
H+2 Full Moon

Gempa Besar dan Fase bulan Tahun 2006-2008

23 Juli 2006, 6.1 SR Sulawesi
H-2 New Moon
17 Juli 2006, 7.7 SR Pengandaran
H-1 Last Quarter
27 Mei 2006, 6.2 SR Yogyakarta
New Moon
27 Januari 2006, 6.3 SR Palu Sulawesi
H-2 New Moon
9 Agustus 2007, 7.5 SR lndramayu
H+3 Last Quarter
6 Maret 2007. 6.3 & 6.1 SR Sumatera
H+2 Full Moon
21 Januari 2007, 7 SR Sulawesi Utara
H+2 New Moon
13 September 2007, 7.9 SR Mentawai
H+2 New Moon
12 September 2007, 8.4 SR Padang
H+1 New Moon
16 November 2008, 7.3 SR Gorontalo
H+3 Full Moon
20 Februari 2008, 7.3 SR Simeulue, Aceh
H-l Full Moon

Gempa Besar dan fase bulan Tahun 2009 - 2010

24 Oktober 2009, 6.9 SR Kepulauan Tanimbar
H-2 First Quarter
1 Oktober 2009, 7.0 SR Jambi
H-3 Full Moon
30 September 2009, 7.6 SR Pariaman
Tidak Terkait Fase Bulan
(H+4 First Quarter atau H-4 Full Moon)
19 September 2009, 6.4 SR Bali
New Moon
2 September 2009, 7.3 SR Tasikmalaya
H-2 Full Moon
16 Agustus 2009, 6.7 SR Siberut
H+2 Last Quarter
12 Februari 2009, 7.2 SR Kepulauan Talaud
H+3 Full Moon
3 Januari 2009, 7.6 SR Manokwari
H-1 First Quarter
25 Oktober 2010, 7.7 SR Kepulauan Mentawai
H+2 Full Moon
16 Juni 2010, 7.0 SR Papua
H-3 First Quarter
18 Mei 2010, 6.0 SR Sukabumi
+3 First Quarter
9 Mei 2010, 7.2 SR Meulaboh
H+3 Last Quarter
24 April 2010, 6.1 SR Maluku
H+2 First Quarter
7 April 2010, 7.2 SR Sinabang
H+1 Last Quarter
14 Maret 2010, 6.5 SR Kepulauan Obi
H-2 New Moon
5 Maret 2010, 6.8 SR Bengkulu
H-2 Last Quarter

Gempa Besar dan Fase Bulan Tahun 2011 - 2014 

25 April 2011, 6 SR Kendari
Last Quarter
4 April 2011, 7.1 SR Cilacap
H+1 New Moon
13 Oktober 2011, 6.8 SR Bali
H+1 Full Moon
6 September 2011, 6.7 SR Aceh
H+1 First Quarter
26 Juni 2011, 6.4 SR Papua
H+3 Last Quarter
18 Agustus 2012, 6.2 SR Donggala
H+1 New Moon
25 Juli 2012, 6.4 SR Simeulue
H-1 First Quarter
11 April 2012, 8.4 SR Aceh
H-2 Last Quarter
11 Januari 2012, 7.3 Meulaboh
H+2 Full Moon
6 Juli 2013, 6.1 SR Kepulauan Mentawai
H-2 New Moon
2 Juli 2013, 6.1 SR Aceh
H+2 Last Quarter
22 Januari 2013, 6.0 SR Aceh
H+3 First Quarter
15 November 2014, 7.3 Halmahera
H+1 Last Quarter
25 Januari 2014, 6.5 SR Kebumen
H+1 Last Quarter

Kesimpulan
Jadi 54 Gempa Besar di Indonesia periode tahun 2000-2014 terjadi pada fase :
New Moon : 16
Last Quarter : 14
Full Moon : 14
First Quarter : 10

Belum puas ?!
Gempa Lombok 5 Agustus 2018, berkekuatan 7 SR terjadi pada fase bulan Lastquarter.
Gempa dan tsunami Palu - Donggala Sulawesi, 28 September 2018 berkekuatan 7,4 SR dan terjadi 3 hari setelah Fullmoon.

Jika melihat data dan fakta tersebut, jelas justru fase Newmoon dan Quarter yang lebih dominan saat terjadi gempa besar, namun tak ada satupun dari fase ini yang menunjukkan angka signifikan untuk ditarik benang merah atau disimpulkan sebagai pemicu peristiwa gempa besar kecuali hanya sebagai asumsi Pseudosains.

Apa itu pseudosains (Ilmu semu) !?
yaitu sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Ilmu semu mungkin kelihatan ilmiah, tetapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji.

Jadi dari fakta tersebut apakah relevan mengatakan Fullmoon dan Newmoon terkait (menjadi pemicu) gempa skala besar ?! Silakan utk menyimpulkan sendiri :)
Jika data dirasa kurang, silakan riset sendiri dengan data gempa besar periode th 1900-2018 yang bisa didapat di website USGS.

TAS SIAGA EVAKUASI TSUNAMI

thumbnail
TAS SIAGA EVAKUASI BENCANA TSUNAMI ini untuk kawan2 yang tinggal di pesisir pantai yang rawan potensi Tsunami. TAS SIAGA ini bukanlah tas piknik / kemping. Tas ini berfungsi untuk evakuasi darurat. Maka efektifitas dan efisiensi lebih diutamakan, karena kecepatan evakuasi sangat dibutuhkan pada masa krisis. TAS SIAGA ini dirancang untuk membantu komunikasi dengan dunia luar dan bertahan selama masa evakusi darurat dalam waktu 2-3 hari.

tas siaga bencana tsunami

1. JAKET
Gunakan hanya jaket parasut tipis yang cepat kering.
2. MAKANAN & MINUMAN
Sediakan makanan dan minuman instan siap makan yang kadaluarsanya panjang
3. VOUCHER ISI ULANG
Gunakan nominal yang cukup untuk komunikasi bantuan
4. DOKUMEN BERHARGA & IDENTITAS
Berupa surat2 legalitas penting beserta Identitas diri/keluarga
5. ROMPI UDARA
Rompi ini biasa digunakan orang2 untuk keamanan di perairan.
6. PELUIT
Pilih yang suaranya paling melengking
7. OBAT-OBATAN
Baik obat-obatan penyakit bawaan atau P3K
8. CERMIN
Gunakan cermin kecil yang biasa dipakai wanita untuk makeup
9. UANG
Gunakan uang pecahan kecil 10 ribu, 20 ribu dan 50 ribuan.
10. NOMOR TELPON
Catat nomor telpon penting pada kertas (Keluarga, Sahabat / Tim SAR)
11. BATERAI HP CADANGAN
Selalu isi baterai ini secara berkala, Hpnya jangan lupa dibawa saat evakuasi :D
12. SENTER
Gunakan senter dengan tenaga baterai, jangan lupa siapkan juga baterai cadangannya
13. PELASTIK
Gunakan Pelastik kedap air yang bisa ditutup, kemudian masukkan isi tas yang tak tahan air kedalamnya.
14. CATATAN DOA
Sesuaikan dengan agama masing2

Untuk TAS SIAGA BENCANA GEMPA yang posisinya jauh dari pantai, silakan menyesuaikan.
Mungkin ada beberapa item yang belum dipahami apa fungsinya, akan mimin update pada kesempatan selanjutnya.
Ada banyak contoh TAS SIAGA, jika versi @Jogja_Uncover kurang tepat silakan Googling referensi lain.

Matur Nuwun... #SALAMMITIGASI

Gempa Beruntun Malang dan Potensi Megathrust Subduksi Jawa Timur

thumbnail
Pasca gempa 5.8 SR Malang 19 Juli 2018 19:23:35 WIB, aktifitas tektonik di laut Selatan Malang mendadak ramai. Bahkan seismograf Wanagama UGM Jogja yang terletak cukup jauh turut merekam aktivitasnya. Intensitas Aftershock gempa ini mencapai lebih dari 40 kali dengan skala bervariasi antara 3-4 SR.

5.8 SR tergolong gempa "kecil", namun banyaknya rentetan gempa susulannya memunculkan kekhawatiran berbagai kalangan. Waspada Megathrust ! itulah kekhawatirannya. Yang jadi pertanyaan, mungkinkah potensi Megathrust bisa muncul di segmen laut selatan Malang ini ?!

Jawa Timur khususnya wilayah laut Selatan Malang pernah mencatat sejarah gempa bumi besar disertai Tsunami pada tahun 1994 silam dengan kekuatan 7.8 SR. Episentrum gempa pemicu Tsunami ini berada di sebelah Selatan segmen gempa 5.8 SR Juli 2018 yang kini sedang ramai dibicarakan.
Gempa Tsunami Malang

wilayah gempa 5.8 SR 2018 ini sendiri, jauh sebelumnya sudah sering mengalami peristiwa gempa bumi. Berdasarkan catatan katalog gempa USGS, ada banyak gempa di sini dengan skala 5-6 SR sejak tahun 1900. Artinya secara historis segmen ini bukan salah satu seismic gap yang berpotensi melahirkan gempa Megathrust. Semoga saja, Aamin.

Lalu bagaimana jika kita berkaca dari gempa Megathrust Jepang yang berskala 9.1 SR pada 11 Maret 2011 silam?! Bukankan episentrum gempa ini berada di zona yang bukan masuk kategori seismic gap?!
Ini pertanyaan menarik.

Dalam catalog USGS Gempa 9.1 SR 2011 diawali oleh gempa yang sangat signifikan 7.3 SR pada 9 Maret 2011 atau 2 hari sebelum Megathrust tersebut bangkit. Rentetan gempa susulannya berjumlah 1235 dan 63 diantaranya berskala 6,0 lebih. Gempa ini terjadi di Palung Jepang, dihasilkan oleh tiga segmen kerakbumi yang saling berdampingan dan terpatahkan secara bersama-sama. Di segmen episentrum gempa Jepang ini ternyata juga mencatat gempa-gempa skala 6-7 SR yang sudah sering terjadi sejak puluhan tahun silam.

Munculnya gempa Megathrust di margin lempeng Pasifik ini tidaklah mengejutkan, sebab sejarah menunjukkan dalam 60 tahun terakhir kawasan Pasifik Utara telah diguncang oleh 4 gempa Megathrust yang mematahkan margin lempeng mulai dari Jepang hingga Alaska.
Artinya?!
Cukup sulit untuk bercermin pada Megathrust Jepang 2011 sebagai pembanding dengan rentetan gempa Malang Juli 2011 (Semoga saja asumsi ini benar). Wallahu A'lam Bishawab...

Haruskah tetap waspada?! Harus!
Episentrun gempa 5.8 SR Malang 2018, berada di sebelah Timur segmen Jogja - Jawa Tengah yang saat ini masuk dalam zona seismic gap 3 atau tergolong "sepi" dalam sejarah gempa besarnya. Namun kawasan "Sepi" di zona subduksi tentu bukanlah kabar menggembirakan. Karena seismic gap menyimpan potensi Megathrust dan rawan terpicu oleh gempa di segmen tetangga.

Potensi Tsunami Jawa Tengah

Lebih lanjut tentang seismic gap silakan baca disini
Potensi Tsunami Jawa


Gempa berulang Pacitan berhubungan dengan Letusan Freatik Merapi 2018 ?!

thumbnail
Ada banyak pertanyaan yang dimention ke akun twitter @jogja_uncover akhir² ini terkait gempa beruntun yang terjadi di wilayah laut selatan Pacitan.
Adakah korelasinya dengan aktifitas letusan Merapi ?!
Akankah muncul potensi gempa besar ?!

Mari kita buka layar tancepnya...

Sepanjang bulan Mei 2018 ini, hingga 24 Mei pk 00.30 WIB, tercatat 11x gempa (minor) telah terjadi di laut selatan Pacitan. Kekuatan gempa rata² berkisar ±3 SR dengan kedalaman dangkal 10-30km.
Berikut episentrum gempa selama bulan Mei 2018 yang berada di wilayah laut selatan Pacitan. Simbol "Love" bukan kode Dilan ya ;)
Gempa pacitan 2018
Terlihat episentrum membentuk garis menerus dari Utara ke Selatan, apakah ini mengindikasikan jejak aktifitas Sesar Grindulu yang dulu sering disebut² ?! 

Sebentar, dalam "Peta Gempa Nasional 2017" Sesar Grindulu tak masuk dalam daftar. Jadi kita abaikan dulu Sesar ini.
Peta gempa nasional 2017

Pernahkah wilayah laut Selatan Pacitan yang lagi kita bicarakan ini mengalami gempa besar ?! Ya, 20 Oktober 1859 perkiraan skala di atas 7 SR. Sudah berlalu 159 tahun lalu.
National Geophysical Data Center memplot episentrum berada di sekitar -9,0,111,0. Terlihat ada titik² gempa Mei 2018 di sekitarnya.
Gempa pacitan

Bagaimana jika kita masukkan data gempa Pacitan bulan April 2018 ?! Berikut penampakannya...
Sejarah gempa pacitan

Apakah ini pertanda gempa besar akan terjadi lagi ?! 159 tahun memang waktu yang lama namun tetap Wallahu'alam.
Sekarang kita pindah sebentar ke Jawa bagian Barat.
Gempa jawa barat 2018
Meminjam Plotting Episentrum gempa yang dibuat pak Didik dari Bandung, Sesar Cipamingkis juga mengalami fenomena yang hampir sama selama ±2 bulan di awal tahun ini. Petunjuk akan adanya gempa besar ?! Wallahu'alam.

Kembali ke gempa Pacitan.
Fenomena yang terjadi adalah wajar karena secara umum segmen di dekat zona subduksi ini dipengaruhi oleh penunjaman dua lempeng Eurasia dan Indo-Australia.

Adakah kaitan antara rentetan gempa Pacitan dan Erupsi Freatik Merapi ?! secara umum tidak. Karena skala gempa Pacitan yang tergolong minor ini (±3SR) terlalu kecil untuk mempengaruhi dapur magma Merapi.

Tapi yang harus menjadi catatan adalah, malam ini 23-05-2018 23:59:14 WIBr Terjadi Gempa 4.2 SR, 128 km Baratdaya Gunung kidul yang berada di Barat Pacitan. Gempa ini berpotensi "Memicu" Merapi karena terekam di seismograf ST Merapi.

Apakah ini artinya kita aman dari gempa besar ?!

Jawabannya adalah, "selama kita hidup berhadapan dengan zona subduksi dan juga berdampingan dengan sesar aktif maka sewaktu² kita bisa mengalami gempa besar".

Maka kuncinya adalah kesiapan Mitigasi bencana.
Dan akun twitter @Jogja_Uncover seperti biasa Insya Allah akan terus update twit kisaran tanggalnya yang berhastag #Mitigasi. Sekali lagi, ini tentang Mitigasi bukan prediksi, bukan sama sekali ramalan dari bisikan di telinga kiri.

Sekian, semoga banyak berkah hari ini.

TIPS TRIK dan CARA Menyaksikan Hujan Meteor

thumbnail
Hujan meteor terjadi ketika sejumlah meteor terlihat bersinar di langit pada malam² tertentu. Hujan meteor adalah fenomena astronomi rutin yang telah diprediksi berdasarkan perhitungan lintasan orbit Bumi dan Komet di tatasurya.

Secara umum hujan Meteor periodik ini terjadi ketika Bumi melintas di dekat bekas orbit sebuah komet dan melalui serpihannya. Serpihan bekas jejak komet seukuran kerikil ini memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi dan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

Akhir Tahun 2017 dan awal tahun 2018 ini akan ada hujan meteor favorit di kalangan pecinta Astro, yaitu Geminids 14 Desember 2017 dan Quadrantids 4 Januari 2018. Menjadi favorit karena intensitas atau jumlah meteor pada periode sebelumnya cukup tinggi untuk diamati.

Tidak perlu alat khusus untuk menonton hujan meteor, alias cukup dengan MATA TELANJANG. Alat seperti Teleskop atau Binokular hanya akan mempersempit ruang pandangmu terhadap langit. Namun ada syarat yang harus terpenuhi untuk bisa menyaksikan hujan meteor, jadi gak asal²an memandang langit. Berikut Tips dan Trik atau Cara berburu hujan meteor periodik.
Hujan meteor 2018

Jadwal Hujan Meteor
Ada banyak aplikasi Android yang akan memberikan kalender dan daftar rinci hujan meteor pada bulan² tertentu setiap tahun. Unduh aplikasi yang memberikanmu notif agar diberi tahu waktu terbaik untuk ke luar rumah dan melihatnya.

Pilih Intensitas Tinggi
Ingat! tak semua hujan meteor menyajikan penampakan dengan intensitas tinggi, artinya kamu hanya harus memilih beberapa hujan meteor saja. Pilihlah hujan meteor favorit atau pilihlah hujan meteor yang berintensitas tinggi seperti Geminids, Quadrantids, Lyrids, Aquarids, Arietids, Perseids dan Leonids.

Tunggu Malam Puncak
Hujan meteor umumnya berlangsung beberapa hari. Pilihlah hari pengamatan saat hujan meteor mencapai puncak terbanyak penampakan.

Hindari Bulan
Maksudnya yaitu jangan memilih pengamatan pada malam puncak saat fase bulan terang seperti Purnama, Lastquarter dan Firstquarter. Kecuali jika Bulannya sudah terbenam.
Keberadaan Bulan di langit saat puncak hujan meteor akan mengganggu pengamatan dan menurunkan jumlah meteor yang bisa terlihat. Karena Bulan adalah sumber polusi cahaya alami terbesar di langit malam dan jauh mengalahkan polusi lampu kota.

Temukan Lokasi Gelap dan Lapang
Lokasi untuk pengamatan haruslah gelap. Sama seperti Bulan, lampu kota adalah sumber polusi cahaya. Beruntunglah kamu jika sedang ada pemadaman listrik dari PLN :D
Tanah lapang juga keharusan, cobalah mencari tempat terbuka tanpa banyak pohon atau bangunan yang menghalangi cakrawala. Semakin lapang semakin luas area pengamatanmu.

Adaptasi Kegelapan Langit
Saat memulai pengamatan, biasakan terlebih dulu mata agar beradaptasi dengan langit gelap selama 20-30 menit. Jangan menatap sumber cahaya agar pupil mata melebar dan bisa menangkap intensitas meteor lebih banyak. Kamu harus menunggu matamu untuk menyesuaikan diri dan mungkin masing² orang berbeda lama penyesuaiannya.

Pastikan Cuaca Cerah
Kalo ini jelas syarat mutlak jadi tak perlu saya jelaskan lagi :)

Next " TIPS TRIK dan CARA Memotret Hujan Meteor "
Selamat berburu ;)

InOMN : International Observe the Moon Night 2017

thumbnail
International Observe the Moon Night 2017

InOMN adalah salah satu event astronomi tahunan Internasional temasuk Indonesia yang digelar sejak tahun 2010 silam baik dari kalangan umum, astronom amatir maupun para ahli.
Tujuan digelarnya acara InOMN adalah untuk mengamati atau mengobservasi Bulan secara serentak (Nonbar) di seluruh belahan dunia. Baik itu belahan Bumi Bulat maupun Datar.
Dan catat! InOMN tahun ini jatuh pada tanggal 28 Oktober 2017.

InOMN : International Observe the Moon Night 2017

Event ini memang selalu mengambil hari sabtu atau malam minggu sekitar bulan September-Oktober kala fase Bulan memasuki fase kuartil awal/ separuh awal. kegiatan ini bagian dari kampanye pentingnya satelit alami satu-satunya bagi planet Bumi dan kehidupan yang ada didalamnya dan bertujuan agar manusia di seluruh dunia dapat menikmati keindahan Bulan dan berbagi pengalaman bersama.

Dalam acara ini, Club² Astro di kotamu akan menyediakan Binokuler, Teleskop, Layar LCD, Laptop dan Software Astronomi yang bisa bebas digunakan selama pengamatan.

Mengapa dilaksanakan di sekitar fase Bulan kuartil awal hingga Bulan cembung?.
Karena InOMN ini adalah event pengamatan bulan yang ditujukan untuk masyarakat luas sehingga di butuhkan posisi Bulan di langit malam yang mudah untuk diamati. Pada fase Bulan Kuartil Awal sampai purnama, Bulan selepas Matahari terbenam akan berada tinggi di horizon sehingga sangat memudahkan kita untuk melakukan pengamatan Bulan bagi masyarakat secara luas.

Ingin Bergabung?!
Hubungi Club Astro di Kotamu untuk mengetahui lokasi Pengamatan. Info Alamat silakan Googling.

NAMA KOMUNITAS ASTRONOMI :

HIMPUNAN ASTRONOMI AMATIR ACEH (HA3)

ACEH ASTRO LOVERS

JOGJA ASTRO CLUB (JAC)

PENJELAJAH LANGIT

HIMPUNAN ASTRONOMI AMATIR JAKARTA (HAAJ)

JASCO (JAMBI ASTRO COMMUNITY)

LANGITSELATAN

GALAKTIKA ASTRO CLUB

ASTRO CLUB KARAWANG

RANCAH ASTRONOMY CLUB

HIMPUNAN ASTRONOMI AMATIR SEMARANG (HAAS)

SOLO ASTRO CLUB

JEMBER ASTRONOMY CLUB (JASTRO)

JOMBANG ASTRONOMI CLUB (JOAC)

BANGKALAN ASTRONOMY CLUB (BAC)

MALANG ASTRONOMY CLUB (MAC)

SURABAYA ASTRONOMY CLUB (SAC)

MASYARAKAT EKSPLORATOR ASTRONOMI PASURUAN ( MAESTRO-PASURUAN )

PALANGKA RAYA ASTRONOMY CLUB (PAC)

KOMUNITAS PECINTA ASTRONOMI KUTAI KARTANEGARA (KOMPAS KUKAR)

ASTRONOM AMATIR MAKASSAR

PADANGSIDIMPUAN ASTRONOMY CLUB (PSAC)

Mojopahit Astronomy Club (MojoAstro)

KLUB ASTRONOMI PELAJAR & MAHASISWA :

PASTRON & ANDROMEDA (UAD YOGYAKARTA)

ASTRONOMY ISLAMIC CLUB (ASTRONIC) UIN SUNAN KALIJAGA YOGYA

KLUB ASTRONOMI POLARIS SMAN 38 JAKARTA

FORUM PELAJAR ASTRONOMI (FPA) JAKARTA

FORUM OF SCIENTIST TEENAGERS (FOSCA) JAKARTA

KASTRO “ACHERNAR” SMAN 91 JAKARTA TIMUR

KASTRO “SIRIUS” SMAN 89 JAKARTA TIMUR

KASTRO “POLARIS” SMAN 38 JAKARTA SELATAN

KASTRO “CAPELLA” SMAN 48 JAKARTA TIMUR

ASTROPHILE BANDUNG

HIMASTRON ITB BANDUNG

KAPELLA (KOMUNITAS PENDONGAK LANGIT) UNPAD BANDUNG

SPICA ASTRO CLUB (SMPN 26 BANDUNG)

KASTRO “LUNAR” SMAN 3 BOGOR

CAKRAWALA UPI BANDUNG

CLUB ASTRONOMI SANTRI ASSALAM (CASA) SOLO

CASMARA (CLUB ASTRONOMI SMARA) SMA 4 SURAKARTA

KAPELA (KOMUNITAS PENGAMAT LANGIT) UNIV NEGERI MALANG

KOMPAS (KOMUNITAS PELAJAR ASTRONOMI) KULMINASI PAMEKASAN

HIMPUNAN PELAJAR ASTRONOMI SURABAYA (HIPAS)

ITS ASTRONOMY CLUB SURABAYA

ASTRONIX SMAN 9 SURABAYA

ANDROMEDA ASTRO CLUB (SMA 2 KOTABUMI) KOTABUMI LAMPUNG

BAJENG ASTRONOMY CLUB (SMA NEGERI 1 BAJENG) GOWA SULAWESI SELATAN

SEVENTEEN CLUB OF AMATEUR ASTRONOMI (SCASTRON) – SMAN 17 MAKASSAR

KOMPAS159 (KOMUNITAS PECINTA ASTRONOMI SALIS) SMAN 1 SUNGGUMINASA  SULAWESI SELATAN

Ulul Albab Astronomy Club (UA2C) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

APC (Astronomy Physics Club) Universitas Brawijaya Malang